EFISIENSI IRIGASI
2.1 Klasifikasi Jaringan Irigasi
PENDAHULUAN
Perkiraan 2015 kebutuhan air irigasi di Indonesia 110.102 juta m3 atau 92.15 % dari kebutuhan totaldari kebutuhan total• Persaingan dg domistik dan industri• OKI, perlu kesepakatan makna dari “ EI”• Jadi Nilai EI, digunakan untuk alat mengukur tingkat keragaan sistem managemen operasional irigasi di suatu DI.
Adapun rumusan masalah pada makalah ini sebagai berikut :
1. Bagaimana klasifikasi jaringan irigasi?
2. Jelaskan efisiensi irigasi ?
3. Bagaimanakah bangunan irigasi?
4. Apakah evakolasi irigasi ?
Tujuan dari makalah ini sebagai berikut :
1. Untuk mengatahui klasifikasi jaringan irigasi.
2. Untuk mengetahui efisiensi irigasi.
3. Untuk mengetahui bangunan irigasi.
4. Untuk mengetahui evakolasi irigasi.
PEMBAHASAN
2.1 Klasifikasi Jaringan Irigasi
a. Jaringan irigasi sederhana
Prasarana yang ada seperti bangunagan pengatur debit atau pembagi sama sekali tidak ada. Hal ini terjadi karena sumber air sangat berlimpah sehingga hampir sama sekali tidak diperlukan rekasaya irigasi. Jaringan utama air hanya perlu di sadap sesuai keinginan sehingga petak-petak sawah dapat tergenangi air. Selain itu tidak ada pembagi antara saluran pembuang dan irigasi.
Kelemahan dari titik jaringan ini adalah pemborosan air Karena penyedapan yang sesuka hati. Selain itu biaya untuk penyedapan sangat mahal karena saluran tersebut harus dapat mengakhiri seluruh petak sawah tanpa sebelum direkayasa sehingga efisiensinya sangat rendah.
b. Jaringan irigasi semi teknis
Tidak banyak perbedaan dengan jaringan sederhana kecuali bangunan-bangunan irigasi mulai digunakan pada jaringan ini. Jaringan pembuangan dan irigasi masih menyatu. Akan tetapi sudah dapat mengairi petak sawah yang lebih besar dari pada irigasi sederhana.
c. Jaringan irigasi teknis
Jaringan ini jauh lebih maju dari pada jaringan lainnya dalam hal rekayasa irigasi. Bangunan air baik digunakan pada jaringan ini. Sepenuhnya saluran irigasi dan pembuang bekerja secara terpisah sehingga pembagian air dan pembuangan air optimum. Selain itu ada petak tersier yang menjadi cirri khas jaringan teknis. Petak tersier kebutuhan diserahkan petani dan hanya perlu disesuaikan dengan saluran primer dan skunder yang ada. Keuntungan dari jaringan ini adalah pemakaian air yang efektif dan efisien, menekan biaya perawatan, dan dibuat sesuai kondisi dan kebutuhan. Kelemahannya adalah biaya pembuatan yang mahal dan pengoprasian yang tidak mudah.
Efisiensi irigasi adalah perbandingan antara jumlah air yang nyata bermanfaat bagi tanaman yang diusahakan dengan jumlah air yang diberikan yang dihitung dalam persen (%).
Menurut Arsyad (2010), efisiensi irigasi dipenga-ruhi oleh efisiensi pemakaian air di petak sawah dan efisiensi pengaliran air dari bendung (sumber air) sampai ke sawah, yang dipengaruhi oleh:
a) kondisi tanah tekstur lapisan olah dan permeabi-litas lapisan bawah (sub-soil),
b) keadaan topografi,
c) banyaknya air di dalam saluran, dan
d) sistem pengelolaan air (water management).
Pemakaian air untuk pertanian adalah yang terba-nyak, untuk Indonesia diperkirakan sekitar 76% dari pemakaian air total dalam tahun 1987 (Gleicik, 1998 dalam Arsyad, 2010) dan 64% dalam tahun 1990 menurut perkiraan Balai Penyelidikan Air.
Kehilangan air sistem pendistribusian berbeda tergantung pada metode distribusi dan pemberian air. Kehilangan air pada sistem pendistribusian dengan sistem distribusi saluran terbuka yang salurannya tidak dilapisi ditaksir sebesar 40%. Pada sistem irigasi pipa, kehilangan air berkisar dari 10% untuk sistem irigasi mikro lokal dan irigasi tetes (drip irrigation), sedangkan pada sistem irigasi sprinkler sampai 30% (Arsyad, 2008).
Dalam praktek irigasi terjadi kehilangan air. Kehilangan air dapat terjadi karena menguap di saluran irigasi, rembesan dari saluran ke luar, bahkan diambil orang untuk kebutuhan rumah tangga atau penyadapan air secara ilegal.
Apabila kehilangan sangat besar, nilai efisiensi irigasi menjadi rendah.
Menurut Sujarwadi (1999) efisiensi irigasi meliputi.
1.
Efisiensi pengaliran (Water conveyance
efficiency).![]()
![]()
![]()
Asa
EPNG = x
100 %
Adb
EPNG : efisiensi pengaliran.
Asa : jumlah air yang sampai di areal irigasi.
Adb : jumlah air yang diambil dari bangunan sadap.
Faktor yang mempengaruhi efisiensi pengaliran:
- kondisi jaringan irigasi,
- penyadapan air secara liar.
2.
Efisiensi pemakaian (Water aplication efficiency)![]()
![]()
![]()
Adzp
EPMK = x 100 %
Asa
EPMK : efisiensi pemakaian air.
Adzp : jumlah air yang ditahan pada zone perakaran.
Asa : jumlah air yang sampai di areal irigasi.
Kehilangan air itu dapat berupa aliran permukaan keluar daerah irigasi, dan sebagian dapat berupa perkolasi. Tebal genangan yang terlalu tinggi sering-kali dipandang sebagai penyebab besarnya kehilang-an air irigasi.
Seringkali untuk suatu lokasi diadakan penelitian tentang efisiensi pemakaian sebagai fungsi dari tinggi genangan:
![]()
![]()
EPMK = f (TG)
Faktor yang mempengaruhi efisiensi pemakaian:
- metode/cara pemberian air,
- sifat tanah dan bentuk topografi,
- luas kompleks areal pertanaman,
- kualitas air irigasi.
3. Efisiensi penyimpanan (Water storage efficiency).
![]()
![]()
Adk
EPNY = x 100 %
Asp
EPNY : efisiensi penyimpanan.
Adk : air yg diberikan.
Asp : air simpanan penuh.
Salah satu sebab lain yang menimbulkan kecil-nya EPNY adalah sulitnya infiltrasi; berarti air irigasi sulit melewati (menembus) permukaan tanah untuk memasuki zone perakaran. Kecilnya persediaan air dan kecilnya kapasitas infiltrasi tanah berpengaruh terhadap nilai EPNY.
Faktor yg mempengaruhi efisiensi penyimpanan:
- tata air tanah,
- permeabilitas dan kapasitas lapang,
- mutu pengolahan tanah.
4. Efisiensi Sebaran
Efisiensi sebaran ini sering pula disebut efisiensi distribusi. Mengingat pentingnya keseragaman seba-ran air irigasi dalam zone perakaran. Keadaan umum menunjukkan suatu gejala, bahwa makin seragam sebaran air irigasi pada zone perakaran, akan makin baiklah produksi tanaman.
Sebagai indikator (petunjuk) tentang efisiensi sebaran digunakan rumus:
![]() |
ESB = (1- (y/d) x 100 %
ESB : efisiensi sebaran
y : rata-rata deviasi numerik dari kedalaman air tersimpan, terhadap nilai d.
d : rerata kedalaman air tersimpan selama periode irigasi.
Secara prinsip, untuk suatu masalah yang ditinjau nilai efisiensi adalah:
![]() |
(Adbk – Ahl)
Ef = x 100 %
Adbk
EF : efisiensi
Adbk : air yang diberikan
Ahl : air yang hilang
Kehilangan air utama pada saluran adalah rembes-an. Menurut Arsyad (2010), penyebab rembesan adalah:
1) Sifat tanah yang dilalui saluran; rembesan saluran besarnya dari 50 mm/hari pada tanah liat, sampai 500 mm/hari pada tanah berpasir.
2) Geometri saluran; lebih dalam air di dalam salu-ran semakin besar rembesan dan semakin besar parameter basah, semakin besar kemungkinan rembesar.
3) Dalamnya air bawah tanah; semakin jauh letak permukaan air bawah tanah dari saluran semakin besar rembesan.
4) Kandungan sedimen di dalam air yang disalur-kan; kandungan sedimen yang tinggi akan dengan cepat menutupi pori-pori tanah yang akan memperkecil rembesan.
Kehilangan air pada saluran-saluran biasanya tinggi, yaitu berkisar antara 20-45% untuk saluran primer dan sekunder. Salah satu cara untuk mening-katkan efisiensi air yang disalurkan untuk irigasi adalah mengurangi volume air yang hilang oleh rembesan selama perjalanan air melalui saluran ke lahan-lahan tani, dengan melapisi saluran.
Menurut Arsyad (2008), beberapa alasan teknis untuk melapisi saluran air adalah:
1) berkurangnya air hilang oleh rembesan,
2) meningkatnya kapasitas saluran melepaskan air (discharge capacity),
3) terhambatnya pertumbuhan gulma,
4) berkurangnya waterlogging,
5) tercegahnya erosi tebing saluran,
6) distribusi air lebih merata,
7) terhindarnya kerusakan lahan yang berdekatan,
8) berkurangnya biaya drainase.
Penelitian di Nebraska, Amerika Serikat, menun-jukkan bahwa pelapisan saluran primer dengan beton dapat mengurangi kehilangan air dari 300 mm/hari menjadi 140 mm/hari, sedangkan di India menunjuk-kan bahwa pelapisan dengan beton dapat mengurangi kehilangan air oleh rembesan sebesar 50% di saluran primer dan 45% di saluran distribusi (sekunder dan tersier) (Plusquellec and Ochs, 2003 dalam Arsyad, 2010).
Efisiensi pemakaian air pada tingkat lapangan atau petak usaha tani akan meningkat jika air yang masuk merata ke seluruh petak. Masuknya air ke petak usaha tani secara merata sulit dicapai jika per-mukaan tanah tidak rata, yang akan mengakibatkan rendahnya efisiensi pemakaian air dan hasil tanaman yang tidak baik.
Peningkatan efisiensi pemakaian air pada tingkat lapangan atau petak usaha tani selain dari meratakan permukaan tanah, dapat dilakukan dengan:
1) Penggunaan tanaman berumur pendek; penggu-naan tanaman berumur 90 hari akan menghemat banyak air dari pada tanaman berumur 120 hari,
2) Perbaikan genetik tanaman; seleksi tanaman yg kebutuhan airnya lebih rendah dapat dilakukan,
3) Penggenangan air lebih rendah pada tanaman padi sawah dan cara pengolahan tanah sawah memperbaiki efisiensi pemakaian air pada padi sawah,
4) Pemberian air padi di bawah kandungan air kapasitas lapang untuk tanaman bukan padi sawah meningkatkan efisiensi pemakaian air,
5) Penggunaan sisa tanaman dan mulsa plastik dan berbagai metode konservasi tanah,
6) Pergiliran pemberian air, berdasarkan saluran sekunder, tersier atau petak sawah.
Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi:
- memperbaiki sarana jaringan irigasi,
- saluran irigasi dibuat lurus dengan kemiringan tertentu,
- pengolahan tanah yang baik/rata,
- dapat memanfaatkan curah hujan semaksimal mungkin,
- menerapkan pola tanam teratur dan pemberian air dengan sistim golongan,
- pemakaian air dalam jumlah yang wajar pada waktu yang tepat,
- dilakukan penyatuan lahan yang sempit,
- mempersingkat waktu pengolahan tanah, antara lain dengan persemaian dijadikan satu.
Keberadaan bangunan irigasi diperlukan untuk menunjang pengambilan dan pengaturan air irigasi.
a. Bangunan Utama
Bangunan utama (head works) dapat didefinisikan sebagai kompleks bangunan yang direncanakan di dan sepanjang sungai atau aliran air untuk membelokkan air ke dalam jaringan saluran agar dapat dipakai untuk keperluan irigasi. Bangunan utama bisa mengurangi kandungan sedimen yang berlebihan, serta mengukur banyaknya air yang masuk.
Bangunan utama terdiri dari bendung dengan peredam energi, satu atau dua pengambilan utama pintu bilas kolam olak (saring) dan (jika diperlukan) kantong lumpur, tanggul banjir pekerjaan sungai dan bangunan – bangunan pelengkap. Bangunan utama dapat diklasifikasi ke dalam sejumlah kategori, bergantung kepada perencanaannya. Berikut ini akan dijelaskan beberapa kategori:
a. Bendung, Bendung Gerak
Bendung (weir) atau bendung gerak (barrage) dipakai untuk meninggikan muka air di sungai sampai pada ketinggian yang diperlukan agar air dapat dialirkan ke saluran irigasi dan petak tersier. Ketinggian itu akan menentukan luas daerah yang diairi (command area) Bendung gerak adalah bangunan yang ilengkapi dengan pintu yang dapat dibuka untuk mengalirkan air pada waktu terjadi banjir besar dan ditutup apabila aliran kecil. Di Indonesia, bendung adalah bangunan yang paling umum dipakai untuk membelokkan air sungai untuk keperluan irigasi.
b. Bendung karet
Bendung karet memiliki dua bagian pokok yaitu tubuh bendung yang terbuat dari karet dan pondasi beton berbentuk plat beton sebagai dudukan tabung karet serta dilengkapi satu ruang kontrol dengan beberapa perlengkapan (mesin) untuk mengontrol mengembang dan mengempisnya tabung karet. Bendung berfungsi meninggikan muka air dengan cara mengembangkan tubuh bending dan menurunkan muka air dengan cara mengempiskan tubuh bendung yang terbuat dari tabung karet dapat diisi dengan udara atau air. Proses pengisian udara atau air dari pompa udara atau air dilengkapi dengan instrumen pengontrol udara atau air (manometer).
c. Pengambilan bebas
Pengambilan bebas adalah bangunan yang dibuat di tepi sungai yang mengalirkan air sungai ke dalam jaringan irigasi, tanpa mengatur tinggi muka air di sungai. Dalam keadaan demikian, jelas bahwa muka air di sungai harus lebih tinggi dari daerah yang diairi dan jumlah air yang dibelokkan harus dapat dijamin cukup.
d. Pengambilan dari Waduk
Waduk (reservoir) digunakan untuk menampung air irigasi pada waktu terjadi surplus air di sungai agar dapat dipakai sewaktu-waktu terjadi kekurangan air. Jadi, fungsi utama waduk adalah untuk mengatur aliran sungai.Waduk yang berukuran besar sering mempunyai banyak fungsi seperti untuk keperluan irigasi,t enaga air pembangkit listrik, pengendali banjir, perikanan dsb. Waduk yang berukuran lebih kecil hanya dipakai untuk keperluan irigasi
e. Stasiun pompa
lrigasi dengan pompa bisa dipertimbangkan apabila pengambilan secara gravitasi temyata tidak layak dilihat dari segi teknis maupun ekonomis. Pada mulanya irigasi pompa hanya memerlukan modal kecil, tetapi biaya eksploitasinya.
Evaporasi adalah proses dimana air dalam bentuk cair dirubah menjadi uap air (vaporization) dan dipindahkan dari permukaan penguapan. Air dapat menguap dari berbagai permukaan seperti danau, sungai, tanah dan vegetasi hijau.
Energi dibutuhkan untuk merubah bentuk molekul air dari fase cair ke fase uap. Radiasi matahari langsung dan faktor lingkungan yang mempengaruhi suhu udara merupakan sumber energi. Gaya penggerak untuk memindahkan uap air dari permukaan penguapan adalah perbedaan tekanan antara uap air di permukaan penguapan dan tekanan udara atmosfir.
Selama berlangsungya proses, udara sekitar menjadi jenuh secara perlahan dan selanjutnya proses akan melambat dan kemungkinan akan berhenti jika udara basah tidak dipindahkan ke atmosfir. Pergantian udara jenuh dengan udara kering sangat tergantung pada kecepatan angin. Oleh karena itu, radiasi matahari, suhu udara, kelembaban udara dan kecepatan angin merupakan parameter iklim yang dipertimbangkan dalam penentuan proses evaporasi.
Jika permukaan penguapan adalah permukaan tanah, maka tingkat penutupan tanaman pelindung (crop canopy) dan jumlah air tersedia pada permukaan penguapan juga menjadi faktor yang mempengaruhi proses evaporasi. Kejadian hujan, irigasi dan gerakan vertikal air dalam tanah dari muka air tanah dangkal merupakan sumber pembasahan permukaan tanah.
Jika
tanah dapat menyuplai air dengan cepat yang memenuhi kebutuhan evaporasi, maka
evaporasi dari tanah ditentukan hanya oleh kondisi meteorologi. Akan tetapi,
bila interval antara hujan dan irigasi cukup lama dan kemampuan tanah
mengalirkan air ke dekat permukaan tanah kecil, maka kandungan air di lapisan
tanah bagian atas akan menurun dan menyebabkan permukaan tanah menjadi
kering.
Pada lingkungan dimana air terbatas, maka jumlah air tersedia menjadi faktor
pembatas. Berkurangnya supplai air ke permukaan tanah menyebabkan evaporasi
menurun drastis. Proses ini mungkin akan terjadi dalam beberapa hari.
PENUTUP
ED air irigasi dari bendung, primer sampai ke pintu sadap sekunder ( EDP, EDS) tergantung pada manajemen operasional irigasi di jaringan utama yg jadi tanggung jawab Dinas Pengairan. Sedangkan EDT jawab Dinas Pengairan. Sedangkan EDT tergantung pd manajemen operasional irigasi tersier yg mrpkan tanggung jawab P3A. Sedangkan EPA tergantung pada cara pemberian air irigasi pada tanaman yg mrpkan tanggung jawab petani.
Makalah irigasi secara penulisan sudah berjalan dengan baik menurut saya, menyenangkan juga. Tetapi makalah ini belum sempurna, jadi para pembaca jika ada kata-kata yang tidak jelas mohon dikoreksi dan dimaklumi.
Kodoatie, R,. J,. Sjarief,. R,.2005.Pengelolaan Sumber Daya air Terpadu, Andi.
Yogyakarta.
Sidharta, SK,. 1997. Irigasi dan Bangunan Air, Penerbit Gunadarma.
Suyono,. 2006. Hidrologi Untuk Pengaliran, cetakan ke-10, Jakarta, Pradnya
Paramita.
Triatmodjo, B,. 2008. Hidrologi Terapan, Yogyakarta, Beta Offset.


Comments
Post a Comment