BUDIDAYA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq)
BAB I
PENDAHULUAN
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) saat ini merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang menduduki posisi penting disektor pertanian umumnya, dan sektor perkebunan khususnya, hal ini disebabkan karena dari sekian banyak tanaman yang menghasilkan minyak atau lemak, kelapa sawit yang menghasilkan nilai ekonomi terbesar per hektarnya di dunia (Balai Informasi Pertanian, 1990). Melihat pentingnya tanaman kelapa sawit dewasa ini dan masa yang akan datang, seiring dengan meningkatnya kebutuhan penduduk dunia akan minyak sawit, maka perlu dipikirkan usaha peningkatan kualitas dan kuantitas produksi kelapasawit secara tepat agar sasaran yang diinginkan dapat tercapai. Salah satu diantaranya adalah pengendalian hama dan penyakit. (Sastrosayono 2003).
Tanaman kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang dapat menjadi andalan dimasa depan karena berbagai kegunaannya bagi kebutuhan manusia. Kelapa sawit memiliki arti penting bagi pembangunan nasional Indonesia. Selain menciptakan kesempatan kerja yang mengarah pada kesejahteraan masyarakat, juga sebagai sumberdevisa negara. Penyebaran perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini sudah berkembang di 22 daerah propinsi. Luas perkebunan kelapa sawit pada tahun 1968 seluas 105.808 hadengan produksi 167.669 ton, pada tahun 2007 telah meningkat menjadi 6.6 juta ha dengan produksi sekitar 17.3 juta ton CPO (Sastrosayono 2003).
Tanaman kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan primadona Indonesia. Di tengah krisis global yang melanda dunia saat ini, industri sawit tetap bertahan dan memberi sumbangan besar terhadap perekonomian negara. Selain mampu menciptakan kesempatan kerja yang luas, industri sawit menjadi salah satu sumber devisa terbesar bagi Indonesia. Data dari Direktorat Jendral Perkebunan (2008) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia, dari 4 713 435 ha pada tahun 2001 menjadi 7.363.847 ha pada tahun 2008 dan luas areal perkebunan kelapa sawit ini terus mengalami peningkatan. Peningkatan luas areal tersebut juga diimbangi dengan peningkatan produktifitas. Produktivitas kelapa sawit adalah 1.78 ton/ha pada tahun 2001 dan meningkat menjadi 2.17 ton/ha pada tahun 2005. Hal ini merupakan kecenderungan yang positif dan harus dipertahankan. Untuk mempertahankan produktifitas tanaman tetap tinggi diperlukan pemeliharaan yang tepat dan salah satu unsur pemeliharaan.
Tanaman Menghasilkan (TM) adalah pengendalian hama dan penyakit. Sektor perkebunan merupakan salah satu potensi dari subsektor pertanian yang berpeluang besar untuk meningkatkan perekonomian rakyat dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Pada saat ini, sektor perkebunan dapat menjadi penggerak pembangunan nasional karena dengan adanya dukungan sumber daya yang besar, orientasi pada ekspor, dan komponen impor yang kecil akan dapat menghasilkan devisa non migas dalam jumlah yang besar. Produktivitas kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh teknik budidaya yang diterapkan. Pemeliharaan tanaman merupakan salah satu kegiatan budidaya yang sangat penting dan menentukan masa produktif tanaman. Salah satu aspek pemeliharaan tanaman yang perlu diperhatikan dalam kegiatan budidaya kelapa sawit adalah pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian hama dan penyakit yang baik dapat meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman.
Rumusan masalah dari pembuatan makalah mengenai Teknologi hasil Pertanian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah sejarah aspek botani kelapa sawit?
2. Bagaimana dengan aspek ekonomi kelapa sawit?
3. Bagaimana pesyaratan dan cara pembibitan kelapa sawit?
4. Mengapa budidaya kelapa sawit terlebih dahulu persiapan lahan?
5. Kapankah melakukan penanaman kelapa sawit?
6. Bagaimana proses pemeliharaan kelapa sawit?
7. Berapa lama proses panen dan pasca panen kelapa sawit?
Adapun tujuan dari rumusan masalah tersebut sebagai berikut:
1. Memperoleh ilmu sejarah sejarah aspek botani kelapa sawit.
2. Untuk mengetahui aspek ekonomi kelapa sawit .
3. Menambah ilmu dan wawasan tentang pesyaratan dan cara pembibitan kelapa sawit.
4. Untuk mengetahui proses persiapan lahan kelapa sawit.
5. Untuk memperoleh informasi kapan melakukan penanaman kelapa sawit.
6. Untuk mengetahui proses pemeliharaan kelapa sawit.
7. Memperoleh informasi tentang lamanya proses panen dan pasca panen kelapa sawit.
PEMBAHASAN
Kelapa sawit merupakan tanaman dengan batang kolumnar tunggal yang memiliki karakteristik berbeda dengan kelapa (Cocos nucifera), yaitu berkaitan dengan sudut penyisipan tidak teratur sepanjang malai daun (Hartley 1988). Kelapa sawit termasuk biji berkeping satu atau monokotil, suku Cocoideae, genus Cocos dan famili Palmae (Hardon 1995). Nama genus Elaeis mencerminkan isi buah kelapa sawit yang berminyak (dari elaion, bahasa Yunani untuk minyak), dan guineensis mengacu pada asal-usul kelapa di pedalaman Teluk Guinea di Afrika Barat (Jacquemand 1998). Pengetahuan tentang botani kelapa sawit penting untuk manajemen agronomi yang tepat.
Mengusahakan suatu komoditi termasuk sawit harus menguntungkan secara ekonomi. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, pendapatan yang diperoleh juga harus bisa untuk kebutuhan pemeliharaan tanaman dan bahkan juga mengembangkan atau memperluas usahanya. Agar aspek ekonomi ini terpenuhi maka upaya peningkatan produktivitas kelapa sawit harus dilakukan, karena peningkatan produktivitas berdampak pada peningkatan pendapatan petani dan akan semakin terjaminnya keberlanjutan.
Tanaman kelapa sawit adalah tanaman yang menghasilkan sepanjang tahun, yang artinya tanaman akan berbuah terus menerus setelah memasuki umur tanaman yang menghasilkan yaitu pada umur tanaman tiga tahun. Upaya yang dapat dilakukan untuk peningkatan produktivitas antara lain adalah penggunaan benih yang bermutu dan bersertifikat; penggunaan teknologi pemupukan yang memenuhi 4 tepat yaitu tepat dosis, tepat jenis, tepat waktu dan tepat cara aplikasi; pemeliharaan tanaman lainnya seperti pengendalian gulma; perawatan jalan untuk panen; konservasi tanah dan air serta pemanenan yang tepat. Rotasi panen satu minggu sekali per blok atau 3 minggu pada pohon yang sama. Umur produksi tanaman kelapa sawit 25 sampai 30 tahun sehingga secara ekonomi akan sangat menguntungkan dan menarik sebagai komoditi agribisnis.
1. Syarat-syarat Tumbuh Kelapa Sawit
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) adalah tanaman perkebunan yang sangat toleran terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik. Namun, untuk menghasilkan pertumbuhan yang sehat dan jagur serta menghasilkan produksi yang tinggi dibutuhkan kisran kondisi lingkungan tertentu disebut juga syarat tumbuh kelapa sawit. Kondisi alam, tanah, dan bentuk wilayah merupakan faktor lingkungan utama yang mempengaruhi keberhasilan pengembangan tanaman kelapa sawit, disamping faktor lainnya seperti bahan tanam (genetis) dan perlakukan kultur teknis yang diberikan.
Penelitian kesesuaian lahan dengan survei areal dengan menggunakan metode yang tepat dan pengumpulan data yang akurat serta pemeriksaan yang cermat. Standar beberapa faktor yang dinilai merupakan syarat tumbuh tanaman kelapa sawit adalah sebagai berikut:
1) Kondisi Iklim
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada suhu udara 270C dengan suhu maksimum 330C dan suhu minimum 220C sepanjang tahun. Curah hujan rata-rata tahunan yang memungkinkan untuk pertumbuhan kelapa sawit adalah 1250-3000mm yang merata sepanjang tahun dengan jumlah bulan kering kurang dari 3, curah hujan optimal berkisar 1750-2500 mm (Lubis, 2008).
Kelapa sawit lebih toleran dengan hujan yang tinggi (misalnya >3000 mm) dibandingkandengan jenis tanaman lainnya,namundalam kriteria klasifikasi
kesesuaian lahan nilai tersebut sudah menjadi faktor pembatas ringan. Curah hujan <1250 mm sudah merupakan pembatas berat bagi pertumbuhan kelapa sawit.
Jumlah bulan kering dari 3 bulan sudah merupakan faktor berat. Adanya bulan kering yang panjang dengan curah hujan yang rendah akan menyebabkan terjadinaya defisit air. Lama penyinaran matahari yang optimal adalah 6 jam/hari dengan kelembapan nisbi untuk kelapa sawit pada kisaran 50-90% (optimalnya pada 80%).
Aspek iklim yang juga berpengaruh pada budidaya kelapa sawit adalah ketinggian tempat dari permukaan laut (elevasi). Elevasi untuk pengembangan tanaman kelapa sawit kurang dari 400 m dari permukaan laut. Areal dengan ketinggian tempat lebih dari 400 m dari permukaan laut tidak disarankan lagi untuk pengembangan kelapa sawit.
2) Bentuk Wilayah
a) Bentuk wilayah yang sesuai untuk kelapa sawit adalah daftar sampai berombak yaitu wilayah dengan kemiringan lereng antara 0-8%.
b) Pada wilayah bergelombang sampai berbukit (kemiringan lereng 8-30%), kelapa sawit masih dapat tumbuh dapat berproduksi dengan baik melalui upaya pengolahan tertentu seperti pembuatan teras.
c) Pada wilayah berbukit dengan kemiringan >30% tidak dianjurkan untuk kelapa sawit karena akan memerlukan biaya yang besar untuk pengolahannya, sedangkan produksi kelapa sawit yang dihasilkan relatif rendah.
Beberapa hal yang akan menjadi masalah dalam pengembangan kelapa sawit pada areal-areal yang berbukit antara lain:
a. Kesulitan dalam pemanenan dan pengangkutan tandan buah segar (TBS),
b. Diperlukan pembangunan dan pemeliharaan jaringan transportasi,
c. Pembangunan bangunan pencegah erosi,
d. Pemukan yang tidak efektif karena sebagian besar melalui aliran permukaan.
3) Kondisi Tanah
Sifat tanah yang ideal dalam batas tertentu dapat mengurangi pengaruh buruk dari keadaan iklim yang kurang sesuai. Misalnya tanaman kelapa sawit pada lahan yang beriklim agak kurang masih dapat tumbuh baik jika kemampuan tanahnya tergolong tinggi dalam menyimpan dan menyediakan air. Secara umum kelapa sawit dapat tumbuh dapat berproduksi baik pada tanah-tanah ultisol, entisols, inceptisols, dan histosols.
Berbeda dengan tanaman perkebunan lainnya, kelapa sawit dapat diusahakan pada tanah yang tekstur agar kasar sampai halus yaitu antara pasir berlempung sampai liat massif. Beberapa karakteristik tanah yang digunakan pada penilaian kesesuain lahan untuk kelapa sawit meliputi batuan dipermukaan tanah, kedalaman efektif tanah, tekstur tanah, kondisi drainase tanah, dan tingkat kemasaman tanah (pH).
Tekstur tanah yang paling ideal untuk kelapa sawit adalah lempung berdebu, lempung liat berdebu, lempung liat dan lempung berpasir.Kedalaman efektif tanah yang baik adalah jika >100 cm, sebaliknya jika kedalaman efektif 7 >50 cm, dan tidak memungkinkan untuk diperbaiki maka tidak direkomendasikan untuk kelapa sawit. Kemasaman (pH) tanah yang optimal adalah pada 5,0-6,0 namun kelapa sawit masih toleran terhadap pH <5,0 misalnya pada pH 3,5-4,0 (pada tanah gambut). Beberapa perkebunan kelapa sawit terdapat pada tanah yang memiliki pH tanah >7,0 namun produktifitasnya tidak optimal. Pengolahan tingkat kemasaman tanah dapat dilakukan melalui tindakan pemupukan dengan menggunkan jenis-jenis pupuk dolomite, kapur pertanian (kaptan) dan fosfat alam (Lubis, 2008).
Bibit merupakan produk yang dihasilkan dari suatu proses pengadaan bahan tanaman yang dapat berpengaruh terhadap pencapaian hasil produksi pada masa selanjutnya. Pembibitan merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit. Melalui tahap pembibitan sesuai standar teknis diharapkan dapat dihasilkan bibit yang baik dan berkualitas. Bibit kelapa sawit yang baik adalah bibit yang memiliki kekuatan dan penampilan tumbuh yang optimal serta berkemampuan dalam menghadapi kondisi cekaman lingkungan pada saat pelaksanaan penanaman (transplanting).
Menurut Setyamidjaja, (2006), untuk menghasilkan bibit yang baik dan berkualitas seperti tersebut di atas, diperlukan pedoman kerja yang dapat menjadi acuan, sekaligus kontrol selama pelaksanaan di lapang. Untuk itu berikut ini disampaikan tahapan pembibitan, mulai dari persiapan, pembibitan awal dan pembibitan utama.
A. Sistem Pembibitan
Pembibitan kelapa sawit dapat dilakukan dengan menggunakan satu atau dua tahapan pekerjaan, tergantung kepada persiapan yang dimiliki sebelum kecambah dikirim ke lokasi pembibitan. Untuk pembibitan yang menggunakan satu tahap (single stage), berarti penanaman kecambah kelapa sawit langsung dilakukan ke pembibitan utama (Main Nursery). Sedangkan pada sistem pembibitan dua tahap (double stage), dilakukan pembibitan awal (Pre Nursery) terlebih dahulu selama ± 3 bulan pada polybag berukuran kecil dan selanjutnya dipindah ke pembibitan utama (Main Nursery) dengan polybag berukuran lebih besar.
Sistem pembibitan dua tahap banyak dilaksanakan oleh perusahaan perkebunan, karena memiliki beberapa keuntungan, antara lain:
1. Kemudahan dalam pengawasan dan pemeliharaan serta tersedianya waktu persiapan pembibitan utama pada tiga bulan pertama.
- Terjaminnya bibit yang akan ditanam ke lapangan, karena telah melalui beberapa tahapan seleksi, baik di pembibitan awal maupun di pembibitan utama.
- Seleksi yang ketat (10%) di pembibitan awal dapat mengurangi keperluan tanah dan polybag besar di pembibitan utama.
B. Media Tanam
Media tanam yang digunakan seharusnya adalah tanah yang berkualitas baik, misalnya tanah bagian atas (top soil) pada ketebalan 10-20 cm. Tanah yang digunakan harus memiliki struktur yang baik, gembur, serta bebas kontaminasi (hama dan penyakit, pelarut, residu dan bahan kimia). Bila tanah yang akan digunakan kurang gembur dapat dicampur pasir dengan perbandingan pasir : tanah = 3 : 1 (kadar pasir tidak melebihi 60%). Sebelum dimasukkan ke dalam polybag, campuran tanah dan pasir diayak dengan ayakan kasar berdiameter 2 cm. Proses pengayakan bertujuan untuk membebaskan media tanam dari sisa-sisa kayu, batuan kecil dan material lainnya.
C. Pembibitan Awal ( Pre-Nursery )
a. Benih yang sudah berkecambah dideder dalam polybag kecil, kemudian diletakkan pada bedengan-bedengan yang lebarnya 120 cm dan panjang bedengan secukupnya. Ukuran polybag yang digunakan adalah 12 x 23 cm atau 15 x 23 cm ( lay flat ). Polybag diisi dengan 1,5 – 2,0 kg tanah atas yang telah diayak. Tiap polybag diberi lubang untuk drainase.
b. Kecambah ditanam sedalam ± 2 cm dari permukaan tanah dan berjarak 2 cm. Setelah bibit dederan yang berada di prenursery telah berumur 3 – 4 bulan dan berdaun 4 – 5 helai, bibit dederan sudah dapat dipindahkan ke pembibitan utama (main-nursery). Keadaan tanah di polybag harus selalu dijaga agar tetap lembab tapi tidak becek. Pemberian air pada lapisan atas tanah polybag dapt menjaga kelembaban yang dibutuhkan oleh bibit.
c. Penyiraman dengan sistem springkel irrigation sangat membantu dalam usaha memperoleh kelembaban yang diinginkan dan dapat melindungi bibit terhadap kerusakan karena siraman.
D. Pembibitan Utama ( Main-Nursery )
a. Untuk penanaman bibit pindahan dari dederan dibutuhkan polybag yang lebih besar, berukuran 40 cm x 50 cm atau 45 cm x 60 cm (lay flat), tebal 0,11 mm dan diberi lubang pada bagian bawahnya untuk drainase. Polybag diisi dengan tanah atas yang telah diayak sebanyak 15 – 30 kg per polybag, disesuaikan dengan lamanya bibit yang akan dipelihara (sebelum dipindahkan) di pesemaian bibit (Setyamidjaja, 2006).
b. Bibit dederan ditanam sedemikian rupa sehingga leher akar berada pada permukaan tanah polybag besar dan tanah sekitar bibit di padatkan agar bibit berdiri tegak. Bibit pada polybag besar kemudian disusun di atas lahan yang telah diratakan, dibersihkan dan diatur dengan hubungan sistem segitiga sama sisi dengan jarak misalnya 100 cm x 100 cm x 100 cm (Setyamidjaja, 2006).
Pembukaan lahan merupakan salah satu tahapan kegiatan dalam budidaya Kelapa Sawit yang sudah ditentukan jadwalnya berdasarkan tahapan pekerjaan yang akan dilakukan sesuai dengan jenis lahannya (areal) hutan, areal alang-alang, areal gambut.
Supaya areal tersebut dapat ditanami Kelapa sawit maka areal tersebut harus bersih dari vegetasi atau semak belukar yang akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman pokok. Sedangkan untuk memudahkan dalam pengelolaan tanaman Kelapa sawit dibutuhkan suatu perencanaan tata ruang kebun yang direncanakan pada saat pembukaan lahan dan sebelum penanaman Kelapa sawit (Setyamidjaja, 2003).
Kecambah kelapa sawit yang telah diterima diusahakan segera ditanam pada polybag yang telah disediakan. Keterlambatan penanaman akan mengakibatkan kerusakan atau kelainan pada kecambah tersebut, antara lain:
a) Bakal akar dan daun akan menjadi panjang, sehingga mempersulit penanaman;
b) Bakal akar dan daun akan mudah patah;
c) Kecambah akan mengalami kerusakan, karena terserang jamur;
d) Kecambah akan menjadi mati/kering karena kekurangan air.
Kecambah yang ditanam yaitu kecambah yang telah dapat dibedakan antara bakal daun (plumula) dan bakal akar (radicula). Bakal daun ditandai dengan bentuknya yang agak menajam dan berwarna kuning muda, sedangkan bakal akar berbentuk agak tumpul dan berwarna lebih kuning dari bakal daun.
Pada waktu penanaman harus diperhatikan posisi dan arah kecambah, plumula menghadap ke atas dan radicula menghadap ke bawah. Kecambah yang belum jelas bakal akar dan daunnya dikembalikan kedalam kantong plastik dan disimpan dalam kondisi lembab, selama beberapa hari bisa ditanam kembali.
Pelaksanaan penanaman biasanya dilakukan oleh satu regu yang terdiri dari 3 orang pekerja. Dalam pelaksanaannya, setiap pekerja dalam satu regu memiliki tugas tersendiri, yaitu:
1) Pekerja pertama bertugas membuat lubang sedalam ± 3 cm dengan jari tangan atau kayu pada bagian tengah media tanam.
2) Pekerja kedua bertugas membawa kecambah dan memasukkannya ke dalam lubang yang telah dibuat.
3) Pekerja ketiga bertugas menutup tanah dan menekan sekeliling lubang yang telah dibuat dengan jari.
Kecambah ditanam pada kedalaman ±1,5 cm dari permukaan tanah. Kesalahan-kesalahan dalam penanaman akan dapat menimbulkan kelainan pada benih, antara lain:
1) Benih yang terputar karena penanaman radicula menghadap ke atas.
2) Akar benih terbongkar karena penanaman yang terlalu dangkal dan penyiraman langsung yang terlalu deras.
3) Benih menguning karena media terlalu banyak mengandung pasir.
4) Benih mati (busuk) karena tergenang air penyiraman atau air hujan.
Untuk mencegah hal ini, maka konsolidasi pada pembenihan awal perlu dilakukan setiap hari. Pengaturan tata letak penanaman dilakukan berdasarkan kode benih, origin atau grup sesuai anjuran. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi percampuran antara kelompok benih dengan pertumbuhan meninggi sangat cepat dengan kelompok benih yang memiliki pertumbuhan meninggi lambat. Pengelompokkan benih secara benar akan menghindari terjadinya kesalahan seleksi selama di pembenihan.
Bibit yang yang telah ditanam di prenursery atau nursery perlu dipelihara dengan baik agar pertumbuhannya sehat dan subur, sehingga bibit akan dapat dipindahkan ke lapang sesuai dengan umur dan saat tanam yang tepat.
a. Penyiraman
1. Penyiraman bibit dilakukan dua kali sehari, kecuali apabila jatuh hujan lebih dari 7 – 8 mm pada hari yang bersangkutan.
2. Air untuk menyiram bibit harus bersih dan cara menyiramnya harus dengan semprotan halus agar bibit dalam polybag tidak rusak dan tanah tempat tumbuhnya tidak padat.
3. Kebutuhan air siraman ± 2 liter per polybag per hari, disesuaikan dengan umur bibit.
b. Penyiangan
1) Gulma yang tumbuh dalam polybag dan di tanah antara polybag harus dibersihkan, dikored atau dengan herbisida
2) Penyiangan gulma harus dilakukan 2-3 kali dalam sebulan atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma.
c. Pengawasan dan seleksi
a) Pengawasan bibit ditujukan terhadap pertumbuhan bibit dan perkembangan gangguan hama dan penyakit.
b) Bibit yang tumbuh kerdil, abnormal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis harus dibuang.
c) Pembuangan bibit (thinning out) dilakukan pada saat pemindahan ke main nursery, yaitu pada saat bibit berumur 4 bulan dan 9 bulan, serta pada saat pemindahan bibit ke lapangan.
Menurut (Setyamidjaja, 2006), seleksi dilakukan sebanyak tiga kali. Seleksi pertama dilakukan pada waktu pemindahan bibit ke pembibitan utama. Seleksi kedua dilakukan setelah bibit berumur empat bulan di pembibitan utama. Seleksi terakhir dilakukan sebelum bibit dipindahkan ke lapangan. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan setelah berumur 12-14 bulan. Tanaman yang bentuknya abnormal dibuang, dengan ciri-ciri:
a) bibit tumbuh meninggi dan kaku
b) bibit terkulai
c) anak daun tidak membelah sempurna
d) terkena penyakit
e) anak daun tidak sempurna.
d. Pemupukan
1) Pemupukan bibit sangat penting untuk memperoleh bibit yang sehat, tumbuh cepat dan subur.
2) Pupuk yang diberikan adalah Urea dalam bentuk larutan dan pupuk majemuk.
A. Proses panen kelapa sawit
Panen adalah pemotongan tandan buah dari pohon sampai dengan pengangkutan kepabrik yang meliputi kegiatan pemotongan tandan buah segar, pengutipan brondolan, pemotongan pelepah, pengangkutan hasil ke TPH, dan pengangkutan hasil ke pabrik.
B. Tujuan Panen Kelapa Sawit
Memanen buah pada tingkat kematagan yang optimum, memanen dan mengutip brondolan, mengirim TBS ke pabrik dalam waktu 1hari setelah panen. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi penyusutan dan mengurangi kandungan minyak bebas di dalam minyak sawit mentah atau CPO(crude palm oil).
C. Sistem Panen
Standart panen yang digunakan antara satu perusahaan dan perusahaan lain kemungkinan berbeda.
1. Tandan buah matang minimal harus memiliki 5 brondolan di piringan pertanda buah siap di panen
- Pelepah yang d tunas di potong tiga bagian dan di susun rapi pada gawangan mati.
- TBS dan brondolan disusun rapi di TPH untuk pengangkutan ke pabrik
- Tangkai buah di potong menyerupai huruf V
D. Peralatan Panen
a. Egrek
- Dodos dgn lebar 10-12,5cm
- Karung goni untuk tmpt brondolan
- Kapak kecil/parang untuk memotong tangkai buah
- Kereta dorong/keranjang pikul untuk ngelansir buah
E. Pemanenan kelapa sawit
Tanaman kelapa sawit mulai berbunga dan membentuk buah setelah umur 2 - 3 tahun. Buah akan menjadi masak sekitar 5 - 6 bulan setelah penyerbukan. Proses pemasakan buah kelapa sawit dapat dilihat dari perubahan warna kulit buahnya. Buah akan berubah menjadi merah jingga ketika masak. Pada saat buah masak, kandungan minyak pada daging buah telah maksimal. Jika terlalu matang, buah kelapa sawit akan lepas dan jatuh dari tangkai tandannya. Buah yang jatuh tersebut disebut membrondol (Fauzi et al. 2008)
Proses panen dan penanganan pasca panen meliputi pekerjaan memotong tandan buah masak, memungut brondolan, dan mengangkutnya dari pohon ke tempat pengumpulan hasil (TPH) serta ke pabrik. Kriteria panen yang perlu diperhatikan adalah matang panen, alat panen, rotasi, sistem panen, serta mutu panen (Hartanto 2011)
1. Aspek Teknis
a. Persiapan Pemanenan
Persiapan panen yang baik akan menjamin tercapainya target produksi dengan biaya panen seminimal mungkin. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam mempersiapkan pelaksanaan pekerjaan potong buah yaitu (1) persiapan kondisi areal, (2) penyediaan tenaga potong buah, (3) pembagian seksi potong buah, dan (4) penyediaan alat-alat kerja.
Persiapan kondisi areal meliputi perbaikan jalan dan jembatan, pembersihan piringan, pemasangan titi panen, pasar tikus, pembuatan TPH, dan pembuatan tapal kuda untuk areal berbukit. Kebutuhan tenaga potong buah harus mengacu pada kebutuhan tenaga pada saat panen puncak. Jumlah tenaga potong buah dapat diperoleh dengan tetap memperhitungkan faktor umur tanaman dan kerapatan buah (Pahan 2012).
b. Pelaksanaan Panen
Dalam pelaksaan panen, semua pemanen harus sudah tiba di ancak dan siap memotong buah paling lambat 06.30 waktu setempat. Sebelum bekerja, seluruh pemenen harus diberi pengertian tentang pentingnya peralatan yang terbaik agar dapat mencapai hasil yang maksimal, baik kualitas maupun kuantitas.
2. Aspek Manajerial
a. Kriteria matang panen
Kriteria matang panen merupakan indikasi yang dapat membantu anda agar dapat memotong buah pada saat yang tepat di masa panen. Pada saat ini, kriteria umum yang banyak dipakai adalah berdasarkan jumlah brondolan, yaitu tanaman berumur kurang dari 10 tahun dengan jumlah brondolan kurang lebih 10 butir dan tanaman berumur lebih dari 10 tahun dengan jumlah brondolan sekitar 15-20 butir. Namun, secara praktis digunakan kriteria umum yaitu pada setiap 1 kg tandan buah segar (TBS) terdapat 2 brondolan (Hartanto 2011)
b. Rotasi dan sistem panen
Rotasi panen adalah waktu yang diperlukan antara panen terakhir sampai panen berikutnya pada tempat yang sama. Perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada umumnya menggunakan rotasi panen 7 hari, artinya satu areal panen harus diancak oleh pemetik tiap 7 hari. Rotasi panen dianggap lebih baik bila buah tidak lewat matang, yaitu dengan menggunakan sistem 5/7. Artinya, dalam satu minggu terdapat 5 hari panen dan masing-masing ancak panen diulangi (dipanen) 7 hari berikutnya. Dikenal dua sistem ancak panen, yaitu :
Sistem giring, Pada sistem ini, apabila suatu ancak telah selesai dipanen, pemanen pindah ke ancak berikutnya yang telah ditunjuk oleh mandor, segitu seterusnya. Sistem tetap, Sistem ini sangat baik diterapkan pada areal perkebunan yang sempit, topografi berbukit atau curam, dan dengan tahun tanam yang berbeda. Pada sistem ini pemanen diberi ancak dengan luas tertentu dan tidak berpindah-pindah.
c. Kerapatan panen
Kerapatan panen adalah sejumlah angka yang menunjukan tingkat kerapatan pohon matang panen di dalam suatu areal, baik itu pada sistemm blok maupun pada sistem group. Agar lebih akurat dalam menentukan kerapatan panen, dapat ditentukan selama 1 hari sebelum panen buah. Perhitungan dilakukan khususnya pada areal-areal yang keesokan harinya akan dipanen.
F. Rotasi Panen
Rotasi panen di divisi diatur dengan hari kerja pabrik, 6/7 dan 5/7 mksudnya dalam 1 minggu terdapat 6 hari pemanen dan 1 hari untuk melakukan pemeliharan. Begitu jga dengan 5/7. Sebelum melakukan pemanenan seorang mandor panen di wajibkan untuk mencari angka kerapatan panen(AKP) ke blok yang akan dilakukan kegiatan pemanenan hal ini dilakukan untuk mengatur kebutuhan tenaga panen dan penyedian sarana transportasi, pohon contoh disensus sebanyak 100 phn/blok, diambil dri baris 5,15,25,35,45 masing-masing sebanyak 20 phn, hitung tandan yang sudah masuk kriteria panen yaitu 5 brondolan/piringan. Misal dalam seratus pohon yang kita sensus terdapat 24 tandan matang, berarti kerapatan panen (KP) = 24/100 = 0,24 atau 1:4 artinya dari setiap 4 pohon terdapat 1 tandan matang, bila BJR(berat janjang rata-rata) 12kg maka perkiraan panen 0,24 x 2,240 x 12 kg = 6.451kg, bila kapasitas (PN=Prestasi normal) 1 orng tenaga panen 800kg jd diperlukan 8 orng tenaga pemanen untuk melakukan pemanenan di blok tersebut. Truck/kendaraan di sesuaikan dngan produksi tsb.
Perkembangan Jumlah Dan Berat Tandan Rata-Rata
|
Umur (Tahun) |
Jumlah Tandan Pohon/Tahun |
BJR |
|
3 – 8 |
15 – 25 |
3.5 – 13 |
|
8 – 6 |
10 – 15 |
14 – 24 |
|
Ø 16 |
4 – 8 |
25 – 30 |
G. Persiapan Panen
Untuk mencapai tujuan potong buah yang dianjurkan (kualitas dan kuantitas) maka perlu dipersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan panen, diantaranya : pengaturan seksi potong buah, persiapan pralatan panen, dan persiapan tenaga kerja.
H. Seksi
Potong Buah
Ada dua konsep pemanenan yaitu :
1. Sistem 6/7 Yang artinya : melaksanakan panen selama 6 hari dari 7 hari yg tersedia dalam 1 minggu
- Sistem 5/7 yang artinya : melaksanakan panen selama 5 hari dari 7 hari yang tersedia dalam 1 minggu
Oleh karena itu areal TM di bagi 6 atau 5 bagian, dan pembagian inilah yang disebut seksi potong buah.
PENUTUP
Tanaman kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang dapat menjadi andalan dimasa depan karena berbagai kegunaannya bagi kebutuhan manusia. Kelapa sawit termasuk tanaman daerah tropis yang umumnya dapat tumbuh di daerah antara 120º Lintang Utara 120º Lintang Selatan. Curah hujan optimal yang dikehendaki antara 2.000-2.500 mm per tahun dengan pembagian yang merata sepanjang tahun. Lama penyinaran matahari yang optimum antara 5-7 jam per hari dan suhu optimum berkisar 240-380C
Tanaman kelapa sawit mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih. Tanaman dengan umur kurang dari 10 tahun, jumlah brondolan kuran lebih 10 butir dan tanaman dengan umur lebih 10 tahun, jumlah brondolan sekitar 15-20 butir. Tanaman kelapa sawit akan menghasilkan tandan buah segar (TBS) yang dapat dipanen pada saat tanaman berumur 3 atau 4 tahun.
Semoga dengan tersusunya makalah ini dapat memberikan gambaran dan wawasan tentang Budidaya kelapa sawit, penyusun berharap dengan memahami tanaman perkebunan utama, kita dapat memahami pekembanganya dengan benar.
Dr. Ir. Sudradjat. M.S. Empat Syarat Berkelanjutan Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit. Fakultas Pertanian IPB, Bogor.
Pahan, I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta. 410
Sastrosayono, S., 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Setyamidjaja dan Djoehana. 1991. Budidaya Kelapa sawit. Kanisius. Yogyakarta
Setyamidjaja, D. 2006. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta. 62 Hal.
Sunarko, 2008. Petunjuk Praktis Budidaya dan Pengolahan Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Comments
Post a Comment