TEKNOLOGI PRODUKSI SAGU DAN JAMBU MENTE

 Teknologi Bioetanol dari Pati Sagu - Pusat Penelitian dan Pengembangan  Perkebunan


BAB I

TEKNOLOGI PRODUKSI SAGU

1.1     Sistem Produksi Sagu

Potensi hutan sagu yang melimpah di Papua khususnya Papua Barat belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai penyedia karbohidrat. Pertambahan penduduk yang terus melaju 2,3 persen per tahun menjadi tantangan untuk penyediaan pangan khususnya karbohidrat. Impor pangan karbohidrat dalam bentuk beras dan terigu tidak dapat dibendung lagi karena pola hidup yang terus berubah. Karena itu salah satu alternatif penyedia pangan karbohidrat adalah mengelola hutan sagu menjadi kebun sagu.

Agar pati sagu tersedia dengan harga yang kompetitif maka usaha sagu perlu dikelola secara industri. Bahan baku sagu dalam bentuk hutan sagu sudah tersedia tinggal mengatur dari hutan sagu menjadi kebun sagu. Meski mengubah hutan menjadi kebun sagu bukan hal yang mudah namun dengan perencanaan yang matang akan diperoleh hasilnya. Sampai saat ini pengelolaan hutan sagu secara industri belum berhasil dengan baik karena itu pembangunan industri sagu di Kabupaten Sorong Selatan menjadi pioner dalam penyediaan pati sagu skala industri besar.

Tantangan dan kendala pembangunan industri sagu mendekati bahan baku di hutan sagu pasti sangat besar, oleh sebab itu dukungan teknologi, kebijakan dan pendekatan sosial budaya menjadi sangat penting.

Melihat potensi hutan sagu dan prospek pasar pati sagu di Kabupaten Sorong Selatan telah mulai dibangun industri sagu dengan kapasitas 100 ton pati sagu per hari.

Agar pati sagu dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia maka bentuk olahan sagu dibentuk mie atau beras analog atau beras sagu. Bila diasumsikan beras sagu dan mie sagu dalam rangka program diversifikasi dapat memberi kontribusi 10 persen dari kebutuhan beras nasional atau setara 3,5 juta ton dan prduktifitas sagu per ha 15 ton maka kebutuhan lahan sagu hanya 220 ribu ha. Padahal di Papua tersedia lahan sagu seluas 1,2 juta ha. Bila luas areal sagu 1,2 juta ha dimanfaatkan untuk industri sagu maka pasokan pati sagu yang dihasilkan mencapai 18 juta ton. Jumlah ini hampir setengah dari kebutuhan beras bangsa Indonesia yang tahun 2013 ini berkisar 35 juta ton untuk memenuhi kebutuhan penduduk sebesar 240 juta lebih. Dari penjelasan diatas tampak bahwa tanaman sagu memiliki potensi penyedia pangan yang sangat potensial.

Dengan adanya gangguan iklim global yang mengganggu produksi pangan dunia termasuk produksi terigu maka tidak tertutup kemungkinan suatu saat negara produsen terigu akan menahan terigunya dan tidak diekspor ke negara yang membutuhkan seperti Indonesia ini, meski kita memiliki uang untuk membelinya. Kondisi ini tentu akan mengganggu kestabilan suatu negara akibat gangguan pasokan pangannya. Ishizaki (1996) melaporkan bahwa tanaman sagu memiliki peranan penting dalam penyediaan karbohidrat dengan produktifitas pati 10-15 ton/ha/th, sedangkan pati dari padi hanya 3 ton/ha/th; jagung 5 ton/ha/th, kentang 2.5 ton/ha/th; ubikayu 5-6 ton/ha/th dan ubijalar 5,5 ton/ha/th.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TEKNOLOGI PRODUKSI JAMBU MENTE

2.1    Kesesuaian Lahan dan Iklim

Kesesuaian lahan dan iklim dapat dilakukan secara kualitatif atau kuantitatif, tergantung dari kelengkapan data yang tersedia. Peningkatan teknologi, termasuk modal dan input untuk memperbaiki faktor-faktor pembatas akan dapat ditingkatkan pada batas-batas tertentu menjadi kelas kesesuian yang lebih baik.

Pengalaman empiris menunjukkan banyak tanaman jambu mete diusahakan pada lahan marginal dengan tebal solum sangat tipis dan agak tipis (20-30 cm), atau penanaman diatas batuan induk yang pejal atau lapisan keras yang sulit ditembus akar. Akibatnya, tanaman mente tumbuh merana dan rataan produksinya rendah, bahkan tidak berproduksi sama sekali meskipun umurnya telah masuk stadia produktif, seperti yang terdapat di Kayangan Lombok Barat.

2.2    Teknologi Grafting Dongkrak

Untuk menaksir produksi per pohonnya dapat digunakan rumus : luas kanopi  jumlah tunas/ (rataan dari 4 penjuru angin)jumlah buah/tros (rataan dari 4 penjuru angin)berat rataan gelondong (rataan dari 1000 gelondong). Sedangkan untuk menghitung rasio kacang mete adalah sbb:

Rasio kacang mete  ….

Pengelolaan entres, bahan tanaman kebun induk komposit sebaiknya menggunakan bibit hasil sambung pucuk (grafting). Agar terjadi kompatibilitas yang sempurna, maka benih untuk batang bawah dan entres, menggunakan varietas yang sejenis. Benih dan entres berasal dari pohon induk terpilih atau berasal dari varietas unggul yang dikehendaki.

Entres diambil dari tunas ujung atau tunas wiwitan yang sudah kecoklatan. Tunas dalam stabil istrahat/stunted lebih baik disbanding stadia flush atau berpucuk muda.

Keberhasilan grafting ditentukan oleh banyak faktor, antara lain kesegaran entres. Makin segar entres atau makin singkat waktu antara panen entres dengan pelaksanaan grafting, makin tinggi keberhasilan grafting. Selain itu, iklim mikro (naungan), pemelihiraan dan keterampilan pekerja juga menetukan keberhasilan grafting. Penilaian grafting ditentukan 3 bulan setelah grafting. Keberhasilan grafting, umumnya masih rendah sekitar 40.

2.3    Pembibitan

Persiapan pembibitan yang perlu dilakukan adalah benih hasil perendaman, polibag yang telah diisi dengan media campuran tanah dan pupuk kandang (1:1), naungan pembibitan dan peralatan penyiraman.

Tanah dan pupuk kandang yang digunakan adalah yang bebas hama dan penyakit seperti tanah asal kolam, sungai, sawah, atau tanah kebun bukaan baru. Cara pembibitan dan penanaman jambu mente dapat dilakukan dengan 3 cara yakni:

a.       Menanam benih langsung dikebun, cara ini dikenal dengan isitilah “tabela”. Benih hasil rendaman dimasukkan ke dalam lubang tanam hasil penugaian dengan mata tunas (sutura) menghadap ke bawah kemudian ditutup tanah dengan ketebalan 0,50- 1 cm.

b.      Benih dibibitkan dahulu dalam polibag hitam stelah bibit berumur 2,50-3 bulan kemudian ditanam di kebun.

c.       Bibit dalam polibag umur 2,50-3 bulan disambung pucuk (grafting) terlebih dahulu. Bibit grafting yang tumbuh baik berumur 10-12 bulan setelah grafting ditanam.

2.4    Pengolahan Lahan dan Penanaman

Pengolahan lahan dilakukan setelah penebasan alang-alang dan atau penebangan belukar. Lahan dibersihkan dan dibajak atau dicangkul bersih, diratakan. Pembakaran belukar dalam pembukaan lahan sangat dilarang dan dikenakan saksi pidana. Selanjutnya lakukan pengajiran dengan bentuk segitiga sama sisi model sarang lebah atau bujur sangkar.

Jarak tanam yang digunakan 10 m. penggalian lubang tanaman, diletakkan pada setiap ajir. Posisi ajir ditengah-tengah lubang tanam. Buatlah lubang tanam dengan ukuran antara panjang dan lebar 40-60 cm dengan kedalaman 60 cm, yakni 404060 cm atau 505060 cm atau 606060 cm. lubang tanam dibiarkan terbuka selama 7 hari setelah penggalian lubang tanam. Lubang buka selama 7 hari penggalian lubang tanam. Lubang tanam diisi dengan campuran tanah dan pupuk kandang yang telah lapuk dengan ukuran 1:1 atau 2:1 (2 bagian tanah dan 1 bagian pupuk kandang) sampai melebihi permukaan tanah.

2.5    Pemeliharaan  Tanaman Jambu Mente

1. Pupuk Organik

Pupuk organik tersedia dan mudah diperoleh didaerah sekitar adalah kompos atau pupuk kandang. Pemakaian mulsa di sekeliling pohon mete juga dianjurkan namun harus ditimbun tanah agar tidak mudah terbakar, terutama pada musim kemarau. Pemakaian mulsa selain dapat menekan evapotranspirasi berlebih, juga hasil pelapukannya menjadi sumber BO tanah.

Sumber lain adalah pupuk kandang, yang pemanfaatannya dianggap belum optimal. Nusa Tenggara, yang dikenal sebagai sentra produksi ternak penting Indonesia, merupakan sumberdaya yang belum diberdayakan secara optimal. Di Lombok Barat (NTB) misalnya, sistem pengadangan ternak secara berkelompok telah bergulir dan berhasil (BPTP, 2003). Pada malam hari sapi dikandangkan secara bersama, dan kotoran yang terkumpul diolah menjadi pupuk kandang. Dengan demikian, manfaaat pupuk organik bagi tanaman terutama pada kemampuannya memperbaiki sifat-sifat fisik dan biologis tanah. Karena pada umumnya jenis pupuk organik mempunyai kandungan unsure hara rendah, maka dalam penerapannya harus dibarengi dengan penambahan pupuk kimia (anongarnik), dan jumlah serta jenisnya disesuaikan menurut kebutuhan tanaman.

2. Pemangkasan Bentu

            Dilakukan sejak tanaman berumur 1-2 tahun di lapangan, dengan ketinggian tanaman tanpa cabang setinggi 1,50-2 m di atas permukaan tanah. Pemangkasan bentuk dengan membuang cabang sedangkan pemangkasan pemeliharaan dengan membuang cabang dan ranting ekstensif, agar cabang tidak menyetuh tanah dan cabang ekstensif tidak menghasilkan buah.

Cabang-cabang terbawah setinggi 60-100 cm sebaliknya dipotong atau dipangkas untuk lebih memudahkan aktivitas lapangan seperti pemupukan, sanitasi kebun, pemberantasan hama-penyakit, dan pengumpulan hasil panen. Demikian pula, cabang atau ranting tidak produktif yang tumbuh pada bagian dalam tajuk seperti tunas air dan cabang ekstensif supaya dibuang.

3. Penyiangan dan Pemupukan

Penyiangan dilakukan sesuai kebutuhan ditentukan oleh kondisi kotor tidaknya kebun. Penyiangan terbagi atas penyiangan kebun (kebersihan sekitar kebun ditentukan keadaan jenis tanaman pengganggu) dan piringan disekitar pohon biasanya selalu bersih dari rerumputan.

4. penjarangan

Selama 2-3 tahun pertama (tergantung jarak tanaman) petani biasanya mengusahakan tanaman sela (padi gogo,kacang,jagung,dll.) di antara tanaman mete. Setelah periode tersebut, tajuk tanaman mente mulai bersinggungan (overlap) dan tanaman sela tidak bisa ditanam lagi karena intensitas cahaya matahari mulai berkurang. Dengan jarak tanam 6  6 m, lebar tajuk tanaman mete sudah lebih dari 6 m pada umur 6-7 tahun (Daras dan Pitono, 2006). Oleh sebab itu, tanaman mente harus diperjarang (populasi dikurangi) secara bertahap agar produksi per pohon tidak menurun. Hanya saja, teknologi penjarangan ini belum dapat diterima petani sepenuhnya, karena mereka khawatir kehilangan hasil.

5. Tumpangsari dan serangga penyerbuk

Kahadiran serangga penyerbuk secara signifikan meningkatkan pembuahan. Kehadiran serangga penyerbuk lebih banyak pada pertanaman jambu mente disekitar perkampungan dan pertanaman lain yang berbunga. Oleh karena itu dianjurkan untuk melakukan:

a.       Perternakan lebah (lebah madu)

b.      Penanaman tumpangsari dengan tanaman palawija ( padi gogo,jagung, kacang-kacangan,ubi jalar,tanaman penutup tanah/pupuk hijau brbunga dll), dengan jarak 0,50 m dari pohon jambu mente.

6. Intergrasi dengan Ternak

Kebun yang telah berproduksi aman terhadap gangguan ternak. Oleh karena itu pengembalaan dan atau pengandangan ternak di kebun mente menyuburkan tanah dan tanaman jambu mente, secara nyata meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Karena integrasi tanaman dengan ternak yang maju akan menumbuhkan industri pupuk organik dan kompos serta industri susu dan daging.

2.6    Penanggulangan Hama Penyakit

Untuk jenis hama dan penyakit tanaman mente tertentu yang intensitas serangannya terjadi pada musim kemarau, maka teknologi penanggulangan yang dihasilkan sebaiknya kearah seminimal mungkin menggunakan air, karena pada musim kemarau petanipun membutuhkan air banyak untuk kehidupan. Pemberantasan hama dan penyakit tanaman disesuaikan dengan hama dan penyakit yang ada di pertanaman. Untuk penanggulangan penyakit dianjurkan menggunakan Bubur Bordaux, Dithane M. 45 dll, sedangkan untuk hama dianjurkan menggunakan Decis atau pestisida nabati. Keadaaan naunganpun perlu diperhatikan sebab pada kondisi pohon yang terhaungi perlu dibuka dengan memangkas pohon naungannya.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah A dan I Las. 1985. Peta Kesesuaian iklim dan lahan untuk pengembangan tanaman jambu mente di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 16 hlm.

Asmin dan J Witjaksono. 2016. Perkembangan dan Strategi peningkatan produksi jambu mente di Sulawesi Tenggara. Prosiding Forum Komunikasi Nasional Jambu Mete II.:p31-44.

Daras U dan R. Zaubin. 2001. Pemupukan dan pemangkasan. Monograf jambu mente. Monograf (6):67-72.

Hariyanto, B, Dian. A dan T.P. Cahyana. 2012. Kajian Pengembangan mie Sagu dengan Metode Ekstruder. Prosiding Seminar Nasional Patpi . Manado. Sulawesi Utara.

Haryanto dan Pangloli. 1992. Potensi dan Pengolahan Sagu. Kanisius. Yogyakarta.

Koerniati S, Ernawati dan O.U. Suryana. 1995. Jambu mente. Ed sus Littro 11(1):23-32.

Comments

Popular posts from this blog

4 Tipe Orang yang Tidak Sesuai untuk Berwirausaha

Motivasi Hidup dalam Terpuruk

Pendaftaran Mahasiswa Baru PTN Jalur Mandiri 2021