PENYAKIT BENIH
DAFTAR ISI
2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Patogen pada Benih
2.4 Pengendalian Penyakit pada Benih
PENDAHULUAN
Penyakit benih merupakan penyakit penting pada berbagai komoditas pertanian. Penyakit benih ini dapat menyebabkan kerusakan dalam bentuk perubahan warna, bentuk, nekrose, penurunan daya kecambah, dan mengurangi nilai biji (benih). Kehilangan hasil yang disebabkan penyakit benih mencapai lebih dari 5 %, dan infeksinya dapat mencapai 50%.
Penyebab utama kerusakan pada benih adalah jamur, bakteri, dan virus (patogen). Benih dapat diserang patogen sebelum biji (benih) berkecambah (pre emergence damping off), sedang apabila menyerang setelah muncul kecambah disebut post emergence damping off. Bentuk kerusakan karena serangan patogen sangat bervariasi, tergantung macam patogen, benih dan faktor lingkungan.
Biji-biji membawa beberapa patogen yang sering menyebabkan beberapa penyakit pada pertanaman yang tumbuh dari biji tersebut. Seperti halnya penyakit yang tumbuh dari biji sorgum dapat menyebabkan kehilangan hasil secara individual di lapang sampai lebih dari 5% dan kadang infeksinya dapat sebesar 50%.
Penyakit-penyakit pada benih disamping menderita kerusakan juga menghasilkan sejumlah spora yang selanjutnya dapat menyebarkan penyakit pada tanaman sehat di lapang, sebagai contoh penyakit bercak coklat pada padi dan antraknose pada cabai. Patogen-patogen tersebut selain menimbulkan penyakit pada tanaman itu sendiri, dapat pula menjadi sumber infeksi bagi tanaman lain. Dengan demikian patogen
tersebut dapat menginfeksi tanaman yang sehat. Penyebaran ini dapat dilakukan dengan perantaraan angin, air, insekta, hewan dan manusia.
Adapun rumusan masalah pada makalah ini sebagai berikut :
1. Apakah pengertian penyakit benih ?
2. Apa saja kategori penyakit benih ?
3. Bagaimanakah faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan patogen pada benih ?
4. Jelaskan pengendalian penyakit benih ?
Tujuan dari makalah ini sebagai berikut :
1. Untuk mengatahui pengertian penyakit benih.
2. Untuk mengetahui beberapa kategori penyakit benih.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempangaruhi perkembangan patogen pada benih.
4. Untuk mengetahui pengendalian penyakit benih.
PENYAKIT BENIH
Penyakit benih (seed pathology) merupakan penyakit penting pada berbagai komiditas pertanian. Penyakit benih ini dapat menyebabkan kerusakan dalam bentuk perubahan warna, bentuk, nekrose, penurunan daya kecambah, dan mengurangi nilai benih. Kehilangan hasil yang disebabkan penyakit benih mencapai lebih dari 5 persen, dan infeksinya dapat mencapai 50 persen. Penyebab utama kerusakan pada benih adalah jamur, bakteri, dan virus (patogen). Benih dapat diserang patogen sebelum biji berkecambah (pre emergence damping off), sedang apabila menyerang setelah muncul kecambah disebut post emergence damping off. Bentuk kerusakan karena serangan patogen sangat bervariasi, tergantung macam patogen, benih dan faktor lingkungan.
Seed pathology involves the study and management of diseases affecting seed production and utilization, as well as disease management practices applied to seeds (Patologi Benih melibatkan studi dan pengelolaan penyakit yang mempengaruhi produksi benih dan pemanfaatan, serta praktek-praktek manajemen penyakit diterapkan untuk benih) (Munkvold GP, 2009).
Seed pathology may be defined as the study of seedborne disease and pathogens. It includes studies on the mechanisms of infection, seed transmission, the role of seedborne inocula in disease development, techniques for the detection of seedborne pathogens and nonpathogens, seed certification standards, deterioration due to storage fungi, mycotoxins, and mycotoxicoses, and control of seedborne inocula (patologi benih dapat didefinisikan sebagai studi penyakit dan patogen seedborne. Ini mencakup studi pada mekanisme infeksi, transmisi benih,
peran inokulum seedborne dalam perkembangan penyakit, teknik untuk mendeteksi patogen seedborne dan nonpathogens, standar sertifikasi benih, kerusakan karena jamur penyimpanan, mikotoksin, dan mycotoxicoses, dan pengendalian inokulum seedborne) (S.T. NAMETH, 1998).
The area of science that studies the relationship between pathogens and seeds is Seed Pathology. It does not only identify the pathogens, it also includes the role of the seed as source of inoculum, the survival of the pathogen and the actions taken to control the pathogens associated to it. It uses the knowledge of General Pathology, Microbiology and Seed Analysis (Bidang ilmu yang mempelajari hubungan antara patogen dan biji adalah Patologi Benih. Bidang iikmu ini tidak hanya mengidentifikasi patogen, tetapi juga termasuk peran benih sebagai sumber inokulum, kelangsungan hidup patogen dan tindakan yang dilakukan untuk mengontrol patogen terkait untuk itu. Ia menggunakan Pengetahuan Umum Patologi, Mikrobiologi dan Analisis Benih) (Nome, 2014).
Ada beberapa kategori penyakit benih sebagai berikut :
1. Penyakit : Bakterial cancer
Penyebab : Corynebacterium
Jenis tanaman yang diserang : Tomat
Penyebarannya : Dari Tanaman ke Benih
2. Penyakit : Damping off
Penyebab : Rhizoctonia solani
Jenis tanaman yang diserang : lombok, terong, tomat
Penyebarannya : TB
3. Penyakit : Halo blight
Penyebab : Pseudomonas phaseolicola
Jenis tanaman yang diserang : Kacang merah
ya : TB
4. Penyakit : Blackrot
Penyebab : Xanthomonas campestris
Jenis tanaman yang diserang : Kubis
Penyebarannya : TB
5. Penyakit : Bacterial canker
Penyebab : Corynobacterium
Jenis tanaman yang diserang : Tomat
Penyebarannya : BT
6. Penyakit : White blight
Penyebab : Sclerotinia sclerotium
Jenis tanaman yang diserang : Banyak tanaman
Penyebarannya : BT
7. Penyakit : Black chaff
Penyebab : Xanthomonas translucent
Jenis tanaman yang diserang : Gandum
Penyebarannya : BT
8. Penyakit : Damping off
Penyebab dan jenis tanaman yang diserang serta penyebarannya dalah Rhizoctonia solani (lombok, terong, tomat) - BT, Bakteri (Ercis) – BB
9. Penyakit : Infeksi
Penyebab : Puccinia carthami
Jenis tanaman yang diserang : Safflower
Penyebarannya : TT
Type pemindahan patogen melalui medium benih yaitu transfer :
1. Dari Tanaman ke Benih (TB)
2. Dari Benih ke Tanaman (BT)
3. Dari Benih ke Benih (BB)
4. Dari Tanaman ke Tanaman (TT)
2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengahuri Perkembangan Patogen Pada Benih
1. Lingkungan
Kondisi benih yang bebas pathogen,suhu,dan kelembaban (pH) memegang peranan penting dalam perkembangan dan tingkat kerusakan benih yang disebabkan oleh serangan patogen. Patogen dari sjenis Cendawan, menghendaki temperatur optimum untuk hidup dan berkembang.
Mis : Aspergillus, sp Temp. Optimum 30-35 ◦C, Penicellium, sp Temp. Optimum 30 ◦C. Mucor, sp Temp. Optimum 30 ◦C. Kelembaban optimum 85-90 ◦C. Patogen dari Bakteri umumnya hidup dan berkembang pada kelembaban (RH) 90-92 %.
1. Lamanya Daya Hidup Patogen
Patogen akan lama hidup, selagi benih itu masih hidup. Ada Patogen berumur singkat, akan tetapi ada yang hidup meskipun benih telah mati. Lama Patogen dapat hidup pada benih tergantung jenis Patogen.
2. Mikroflora
Mikroflora dalam tanah memegang peran penting dalam menentukan berhasil tidaknya serangan Patogen pada benih.
3. Tipe Perkecambahan
Serangan Patogen dilapangan bisa terhambat oleh tipe perkecambahan benih epigeal dan hypogeal.
4. Cara Bercocok Tanam
Kondisi kedalaman tanam, teknis pesemaian lansung, kerapatan tanaman, waktu tanam, sistem pengairan waktu panen,
pemilihan areal tanam mempunyai tingkat keberhasilan penyebaran Patogen lewat benih, serta serangan Patogen lewat benih, .
5. Jasad Renik yang terbawah oleh benih jasad renik dari golongan cendawan bakteri, nematoda, virus dapat terbawa oleh benih.
2.4 Pengendalian Penyakit pada Benih
1. Prophylaxis
Pencegahan terhadap kontaminasi, infeksi Patogen atau kondisi lingkungan yang dapat menguntungkan perkembangan Patogen dan penyakit :
a. Exclusion
Mencegah agar Patogen ataupun benih yang telah terinfeksi tidak masuk kedaerah dimana Patogen tersebut belum terdapat (karantina).
b. Evasion
Mencegah tanaman atau benih bebas dari Patogen, yaitu Menggunakan benih-benih bersertifikat, membuat tempat produksi benih daerah terisolir sehingga bebas dari Patogen.
2. Eradikasi
Cara untuk mengelimir Patogen dari benih setelah Patogen tersebut diketahui terdapat dalam benih.
a. Rotasi Tanaman
Cara rotasi tanaman untuk suatu periode tertentu, memutus siklus hidup Patogen-patogen akan kehilangan tanaman inang untuk beberapa musim tanam.
b. Sanitasi
Dilakukan pada tempat penyimpanan benih, yaitu : Fumigasi Gas, Chloropicrin atau Gas Formaldehide.
c. Penggunaan Bahan Kimia
Perlakuan bahan kimia untuk membasmi Patogen Benih.
d. Perlakuan Thermotherapy
Dilakukan pada Patogen yang sulit dilakukan dengan kimia :
1. Perlakuan air panas temp. 49-57 ◦C selama 30 menit.
2. Uap Panas, 1-3 hari disebut “humifikasi”.
3. Udara Kering dan panas.
3. Proteksi
Cara yang diberikan sebelum terjadi kontaminasi atau infeksi oleh Patogen pada benih tanaman.
a. Pemilihan Areal Tanam
Areal bebas dari Patogen atau vektor sehingga didapat benih bebas Patogen.
b. Cara Bercocok Tanam :
1. Sumber benih
2. Sistem tanam
3. Sistem Pengairan
4. Pengawasan Patogen diladang
5. Cara Panen.
4. Cara Penyimpanan
Benih hasil panen harus cukup kering sebelum disimpan, selama penyimpanan benih dijaga tetap kering. Tempat penyimpanan harus diberi fumigasi mencegah timbulnya hama-penyakit.
PENUTUP
Penyakit benih merupakan penyakit penting pada berbagai komoditas pertanian. Patologi benih dapat didefinisikan sebagai studi penyakit dan patogen seedborne yang mencakup studi pada mekanisme infeksi, transmisi benih, peran inokulum seedborne dalam perkembangan penyakit, teknik untuk mendeteksi patogen seedborne dan nonpathogens, standar sertifikasi benih, kerusakan karena jamur penyimpanan, mikotoksin, dan mycotoxicoses, dan pengendalian inokulum seedborne.
Makalah penyakit benih secara penulisan sudah berjalan dengan baik menurut saya, menyenangkan juga. Tetapi makalah ini belum sempurna, jadi para pembaca jika ada kata-kata yang tidak jelas mohon dikoreksi dan dimaklumi.
Baharudin, A. Purwantara, S. Ilyas dan M.R. Suhartanto. 2013. Patogenisitas
Beberapa Isolat Cendawan Terbawa Benih Kakao Hibrida. Jurnal Littri. Vol. 19(1): 1-7
Khalsoven. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. PT Ichtiar Baru - Van Hoeve.
Jakarta. 701 halaman. Munkvold GP. 2009. Seed pathology progress in academia and industry. Department of Plant Pathology, Iowa State University, Ames, Iowa 50011, USA.. 47:285-311. doi: 10.1146/annurev-phyto-080508-081916. munkvold@iastate.edu
Nome S. F, Dora Barreto, Delia M. Docampo. 2014. Seedborne Pathogens. Seeds:
Trade, Production and Technology. Instituto de Fitopatología y Fisiología Vegetal, INTA, Camino 60 Cuadras km %1/2 (5119), Córdoba,
Argentina. sfnome@reidel.com.ar Pakki, Syahrir. 2009. Efektivitas Amonia,Asam
Propionat, dan Ekstrak Daun Cengkeh dalam Pengendalian
S.T. NAMETH. 1998. PRIORITIES IN SEED PATHOLOGY RESEARCH.
Dept. of Plant Pathology, The Ohio State University, Columbus, OH, 43210, USA. Sci. agric., Piracicaba, 55(Número Especial), p.94-97, agosto 1998 Sinaga, M. S. 1992.
Comments
Post a Comment